Senin, 10 Juni 2013

Dilarang Memakai Jilbab

Seorang ikhwah yang solehah, baru saja menempati kostnya yang baru. Ia sendirian di kamar melepas lelah sambil menatap langit-langit. Kesibukan menyelenggarakan training ke-Islaman di Musholla tadi membuat ia baru bisa merebahkan badannya sekarang. Suasana hening, karena penghuni kost lainnya sedang pulang kampung. Dari balik dinding masih sedikit terdengar percakapan Ibu pemilik kost dengan anaknya.
Anak : Bu
Ibu : Hmmm ?
Anak : Bu..!
Ibu : Apa..!!
Anak : Mmm, anu... Saya tadi baru ikut pengajian rohis di Musholla sana itu, Bu..!
DENGERIN DONG..!!
Ibu : Iya..! Ibu ndengerin koq, terusin saja. Maaf, Ibu lagi repot nih, susah banget masukin benang ke jarum ini sekarang. Rasanya mata ibu udah mulai rabun, kali ya..!?

Anak : Bu !
Ibu : Apa sih..!? Mau ngomong apa, sayaang..!?
Anak : Tadi, di sana seorang ustadz mbahas soal jilbab. Katanya pake jilbab itu wajib.
Bu, Mulai sekarang saya mau pake jilbab, gimana Bu..!?
Ibu : Nak jangan...!!

Sang ikhwah tadi dari balik dinding makin menajamkan perhatian pendengarannya.
Anak : Tapi itu perintah Allah. Kalau tidak patuh kita dosa, Bu.!? Boleh ya, saya pake jilbab.
Ibu : Ibu bilang jangan nak..!
Anak : GIMANA SIH IBU INI.
Anaknya mau berubah jadi baik koq malah nggak boleh. Pake jilbab itu banyak untungnya, Bu..!?
Bisa langsung dikenali keislaman kita, kita juga nggak akan diganggu orang. Harga diri kita juga jadi terhormat. Gitu..!
Gimana..? Boleh ya..!?
Ibu : Nggaaaak...!!
Anak : Kenapa ngak boleh Bu..? Atau ibu terpengaruh sama cerita Tante, kali ya.!? Bohong Tante itu, Ustadz tadi bilang, jilbab itu bukan budaya Arab. Itu Syariat Islam. Islam yang shohih bukan sempalan. Dari dulu memang diwajibkan demikian, bukan trend baru-baru ini aja.
Ibu : Iya, iya Ibu ngerti. Tapi pokoknya JANGAN...!!
Anak : Jadi Ibu ngelarang saya nih... Pokoknya, Bu, saya mau tetep pake jilbab. Terserah Ibu mau bilang apa. Nggak ada ketaatan pada orang tua, kalau orang tua itu menyuruh maksiyat pada perintah Allah.
Ibu : Anak ini koq nggak ngerti amat sih. Ibu bilang jangan, jangan, JANGAN...!!
Anak : NGGAK, POKOKNYA BESOK SAYA MAU PAKE JILBAB. TITIK..!
Ibu : JANGAN..!!
Anak : JILBAB !
Ibu : JANGAN !
Anak : JILBAAAB...!!
Ibu : J A N G A N...!!!
Anak : J I L B A A A A A A B...!!!

Sang ikhwah tadi sudah tidak dapat menahan keinginannya. Ia langsung keluar kamar, untuk bertemu ibu dan anak itu untuk membela yang menjadi keyakinannya. Tangannya sudah terangkat di depan pintu untuk mengetuk, kemudian terdengar suara sang ibu.

Ibu : Jangan Joko, kamu jangan pakai jilbab. Kamu khan laki-laki.
Ikhwah : ^($*#&@^ (dongkol hehe)

Senjata Makan Tuan

      Seorang wartawan sedang meliput
peristiwa kecelakaan. Karena banyak orang
yg mengerumuni lokasi kecelakaan,
wartawan tsb tdk dpt menerobos untuk
melihat korban dari dekat. Setelah berpikir
keras, wartawan tsb dpt ide.
"Minggir-minggir semua, saya ayah
korban!" ia berseru. "Saya minta jalan.
" Benar saja.....kerumunan itu membiarkan
dia lewat. Semua mata terarah kepada
wartawan tsb. (wartawan GR, dalam hati:
"Berhasil juga!!!) Ketika sampai di tengah
kerumunan, ia terpana melihat... SEEKOR
ANAK MONYET tergeletak tak berdaya!

AWAS TEMBOK

Kebaktian dukacita untuk mengenang seorang istri yang baru saja meninggal baru saja selesai. Lalu beberapa orang diminta menggotong peti jenazah itu menuju ke perkuburan. Tetapi, saat hendak keluar dari gereja, tanpa disengaja, peti itu menyenggol tembok dan jatuh terbanting dengan keras. Para tamu terkejut semuanya, karena mereka mendengar erangan dari dalam peti jenazah itu. Ternyata sang wanita masih hidup dan bertahan hingga sepuluh tahun kemudian. 
Nah, sepuluh tahun kemudian sang istri meninggal lagi. Kebaktian dukacita berlangsung di tempat yang sama. Saat selesai kebaktian, ketika peti itu hendak digotong ke luar gereja dan menuju pemakaman, si suami beteriak-teriak, "AWAS TEMBOK!AWAS TEMBOK!"